Oktober aku masih mengetuk
Kepergianmu meninggalkan aroma sunyi
Menebar kesedihan
Pada lara di awal november
Hujan meninggalkan jejak pilu
Pada rintik atau amuknya
Hingga remah patah di dadaku
Menatap lumpur di sepanjang Kampung Badak
Ada tangis yang susah payah ku elak
Pada pergimu yang tak pernah pulang
Pada keranda di tengah amuk sungai
Pada perahu karet pengusung jenazah
Di Kampung Pasir Tripe Jaya
Air mata masih enggan pergi
Masih tertatih kutempuh sembuh
Ketika kudengar amuk api di Air Jernih
Jeritan pilu
Suara patah
Mereka tekun menghitung nestapa
Dan kembali…
November di awali duka
Rapuh jatuh di mataku
Menatap Telege Jernih diamuk api

Luka kembali mengutus perih
Duka kembali menuang air mata
Oktober November
Duka masih belum beranjak
Basah air mata
Masih setia menemani
Meninggalkan perih yang tak mampu
Kuberi nama
Blangkejeren, 3 November 2026